Resistance (resistensi); 1. Aksi suatu tubuh menentang suatu
kekuatan. 2. Perlawanan suatu sirkuit atau perjalanan ke keliling sepanjang
perjalanan suatu arus listrik, 3. (Psikoanalisis) upaya pasien untuk
menghindari kemunculan material yang tidak disadari menu kearah kesadaran , 4.
Oposisi social atau negatifime dalam mereaksi terhadap perintah peraturan,
kebijakan politik, dan seterusnya 5. Tahap pertama dari sindrom adaptasi.[1]
Resistensi. Analisis and interpretation of : suatu suasana
anti terapeutik klien yang ditandai ketidak bersediaan dan kegagalan kerjasama
dalam konseling atau terapi dan sering berhubungan dengan rasa cemas,
bermusuhan, atau sikap tidak percaya dalam psikoanalisi freud, resistance itu
dianalisis dan di interprestasikan hakikatnya karena diyakini bahwa dalam
resistance terdapat kecemasan dan konflik sebagai isi-isi ketidaksadaran yang
signifikan bagi masalah atau kesulitan klien.
Resistensi merupakan salah satu dari
teknik terapi dalam psikoanalisis yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran
mendapatkan tilikan intelektual kedalam perilaku klien. Dan memahami
gejala-gejala yang tampak. Ada lima teknik dasar dalam terapi psikoanalisis,
yaitu:
1.
Asosiasi bebas
Asosiasi bebas adalah suatu
metode pengungkapan masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan
dengan situasi traumatic dimasa lalu.
2. Interpretasi
Interpretasi adalah prosedur
dasar yang digunakan dalam asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi
dan analisis transparansi.
3. Analisis mimpi
Analisis mimpi merupakan
prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu
klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalh yang belum terpecahkan.
4. Analisis dan interpretasi resistance
Resistance, sebagai suatu
konsep fudamental praktik-praktik psikoanalisis, yang bekerja melawan kemajuan
terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Selama
asosiasi bebas, atau asosiasi mimpi, klien mungkin cenderung menunjukkan
ketidakmauan untuk mengaitkan perasaan, pemikiran dan pengalaman tertentu.
Freud memandang resistance sebagai dinamika yang tidak disadari yang mendorong
seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila
orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan. Resistance
bukan sesuatu yang harus diatasi, karena hal itu merupakan gambaran pendekatan
pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistance harus diakui sebagai
alat pertahanan menghadapi kecemasan.[2]
Ketika klien membicarakan
permasalahannya, terapis mungkin bias mencatat bahwa si klien mengelak,
memotong atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud
memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi
tersebut akan menarik perhatian klien apabila terjadi terus menerus. Misalnya
seorang siswa yang menemui konselor karena permasalahan belajar yang terus
menerus menyalahkan gurunya mungkin melarikan diri dari perasaan ketidak
cakapannya, atau ketergantungannya dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri
berupa proyeksi (sebagai contoh mengantributkan sebuah karakter yang tidak bias
anda terima diatributkan kepada diri anda sendiri). [3]
5. Analisis dan interpretasi transferensi
Seperti halnya resistance,
transferensi (pemindahan) terletak dalam arti terapi psikoanalitik.
Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana
kegiatan klien masa lalu yang takkan terselesaikan dengan orang lain,
menyrbabkan dia merubah masa kini dan mereaksi kepada analisis yang dia lakukan
kepada ibunya atau ayahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar