Rabu, 26 November 2014

Risistance



Resistance (resistensi); 1. Aksi suatu tubuh menentang suatu kekuatan. 2. Perlawanan suatu sirkuit atau perjalanan ke keliling sepanjang perjalanan suatu arus listrik, 3. (Psikoanalisis) upaya pasien untuk menghindari kemunculan material yang tidak disadari menu kearah kesadaran , 4. Oposisi social atau negatifime dalam mereaksi terhadap perintah peraturan, kebijakan politik, dan seterusnya 5. Tahap pertama dari sindrom adaptasi.[1]
Resistensi. Analisis and interpretation of : suatu suasana anti terapeutik klien yang ditandai ketidak bersediaan dan kegagalan kerjasama dalam konseling atau terapi dan sering berhubungan dengan rasa cemas, bermusuhan, atau sikap tidak percaya dalam psikoanalisi freud, resistance itu dianalisis dan di interprestasikan hakikatnya karena diyakini bahwa dalam resistance terdapat kecemasan dan konflik sebagai isi-isi ketidaksadaran yang signifikan bagi masalah atau kesulitan klien.
Resistensi merupakan salah satu dari teknik terapi dalam psikoanalisis yang digunakan untuk meningkatkan kesadaran mendapatkan tilikan intelektual kedalam perilaku klien. Dan memahami gejala-gejala yang tampak. Ada lima teknik dasar dalam terapi psikoanalisis, yaitu:
1.        Asosiasi bebas
Asosiasi bebas adalah suatu metode pengungkapan masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatic dimasa lalu.
2.      Interpretasi
Interpretasi adalah prosedur dasar yang digunakan dalam asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi.
3.      Analisis mimpi
Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalh yang belum terpecahkan.
4.      Analisis dan interpretasi resistance
Resistance, sebagai suatu konsep fudamental praktik-praktik psikoanalisis, yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas, atau asosiasi mimpi, klien mungkin cenderung menunjukkan ketidakmauan untuk mengaitkan perasaan, pemikiran dan pengalaman tertentu. Freud memandang resistance sebagai dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan. Resistance bukan sesuatu yang harus diatasi, karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistance harus diakui sebagai alat pertahanan menghadapi kecemasan.[2]
Ketika klien membicarakan permasalahannya, terapis mungkin bias mencatat bahwa si klien mengelak, memotong atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi tersebut akan menarik perhatian klien apabila terjadi terus menerus. Misalnya seorang siswa yang menemui konselor karena permasalahan belajar yang terus menerus menyalahkan gurunya mungkin melarikan diri dari perasaan ketidak cakapannya, atau ketergantungannya dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri berupa proyeksi (sebagai contoh mengantributkan sebuah karakter yang tidak bias anda terima diatributkan kepada diri anda sendiri). [3]
5.      Analisis dan interpretasi transferensi
Seperti halnya resistance, transferensi (pemindahan) terletak dalam arti terapi psikoanalitik. Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan klien masa lalu yang takkan terselesaikan dengan orang lain, menyrbabkan dia merubah masa kini dan mereaksi kepada analisis yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya.


[1] James P.Chaplin,kamus lengkap psikologi
[2] Fenti Hikmawanti,bimbingan konseling
[3] John Mc Leod,pengantar konseling:teori dan studi kasus